Jumat, 01 Agustus 2014

My Lens is You

Seperti biasa aku memulai hari dengan segelas susu full cream kesukaan ku. Pemandangan diluar terlihat sangat cerah. Kurasa hari ini akan jauh lebih menyenangkan!, pikir ku.

Tiba-tiba Shasha, anak anjing ras Maltese yang berwarna putih bersih, melompat ke pangkuan ku. Dia berhasil membuatku terkejut. Ku sapa dia sambil mengelus kedua pipinya. Terasa sekali bulunya sangat halus. Dialah keluarga yang aku punya dirumah ini. Setelah lulus dari kuliah, aku memutuskan untuk hidup sendiri di sebuah apartermen, dan hidup bersama seekor hewan peliharaan. 

Setelah puas memanjakan Shasha, ku pandangi semua foto hasil jepretan ku di dinding. Foto pemandangan, foto orang, foto bangunan, dan lain-lain lengkap menghiasi dinding yang ada hampir diseluruh ruangan. Namun, tetap saja hasil foto yang paling kusuka adalah jendela kaca yang ada dibalkon memberikan pemandangan menakjubkan setiap waktunya. Itu selalu berhasil menarik mata ku.

Hingga sesaat setelah memandangi jendela kaca itu, mata ku di beri pemandangan yang sedikit berbeda. Terlalu menarik perhatian sehingga aku bergegas mengambil kamera polaroid ku untuk menangkap momen itu. Berkali-kali kutekan tombol kamera sambil tersenyum -sepertinya aku melakukan tindakan kriminal- dan memutar-mutar kemera agar mendapatkan gambar yang bagus.

Setelah puas memotret orang yang tak dikenal berkali-kali, aku langsung mencetaknya di kamar gelap. Baru 2 lembar foto yang sudah siap dijemur, telepon di ruang tengah berbunyi. Segera kuambil langkah seribu untuk mengangkatnya. 

"halo?"
"halo, Ami? Kamu ada dimana? Sudah jam berapa sekarang? Apa kamu lupa hari ini ada pemotretan besar? Cepat ke studio atau karir mu sebagai fotografer terkenal akan jatuh!"
"iya, manajer... Takeshi..." Bunyi beep panjang terdengar sebelum aku menyelesaikan jawaban ku.

Kulihat jam di atas tv menujukkan pukul 07.30. Aku berlari untuk bersiap-siap pergi kerja dan tak lupa kuberi Shasha semangkuk makanan anjing dan susu. Sebelum aku mengunci pintu, aku baru ingat untuk membawa hasil foto yang baru saja aku cetak. Masih agak basah tapi kumasukkan foto itu kedalam kotak map bening yang selalu aku bawa.

"Bye-bye, Shasha! I love you!" Ku ucapkan selamat tinggal pada Shasha sekali lagi. 

Aku berlari mengejar lift yang hampir penuh oleh para tetangga yang sangat aku kenal dan tentu saja sudah menjadi adat untuk menyapa mereka. "selamat pagi, semua!", sapa ku.

"pagi, Nona Ami!", seorang kakek terdengar lebih jelas menyapaku dengan ramah sekali. Kakek Daichi namanya. Tapi aku acuhkan dia dengan senyuman termanis ku lalu kupasang sepatu roda yang sudah kubawa tadi.

Saat pintu lift terbuka aku langsung meluncur keluar gedung apartermen dan menuju gedung studio yang berjarak 7 blok ke utara. Musim semi memberikan angin sejuknya, membuatku meluncur lebih cepat. Pohon-pohon sakura yang sudah bermekaran mengindahkan pandanganku dan banyak burung-burung kecil berlagu ditelinga ku. Benar-benar indah hari ini. Namun, bila saja aku tidak sedang dikejar waktu, aku pasti bisa berhenti untuk memotret pemandangan indah ini.

Perjalananku memakan waktu sekitar 30 menit dari apartemen tapi sekarang bisa ku tempuh hanya dalam waktu 15 menit saja. Apalagi kalu bukan karena aku hampir telat.

Gedung studio temapat aku bekerja sudah mulai nampak. Banyak orang berseliweran masuk-keluar gedung ataupun hanya sekedar lewat didepan gedung. Aku tidak menghentikan diriku sendiri untuk melepas sepatu didepan pintu masuk gedung. 2 security tampan ku lewati begitu saja.

Di dekat meja resepsionis, seorang laki-laki tampan namun terlihat lebih tua dari ku, melambai pada ku. Aku menghampirinya sambal melambai tangan padanya.

“darimana saja kamu? Kamu hampir terlambat, Ami!”, kata manajer Takeshi sembari memberi ku segelas vanilla latte hangat yang biasa aku minum setiap pagi. Setelah menerima gelas kopi itu, kami berdua langsung pergi menuju lift. Aku melihat manajer Takeshi yang sepertinya berjalan cepat di sebelah ku –dia berusaha berjalan sejajar dengan yang lebih cepat dari dia karena sepatu roda–.

“maaf, aku tadi ada sedikit urusan dengan Shasha”
“haah… ya sudah. Kita cepat ke studio saja, kasihan modelmu nanti menunggu mu lebih lama”
“apakah dia sudah datang?”
“yap, baru saja dia naik ke atas bersama manajernya. Mungkin dia sedang make up. Kita harus segera memulai pemotretan karena kudengar modelmu kali ini orangnya sangat dingin, Ami.”

Aku tertawa kecil sambil mengeluarkan kotak map bening dari dalam tas ku, mengeluarkan beberapa kertas yang berisi laporan pekerjaan ku lalu kuberikan pada manajer Takeshi.

“hahaha… Manajer, kau sudah sering melihat ku memotret banyak orang dengan berbagai karakter. Aku tahu bagaimana menjinakkan mereka. Jadi, jangan khawatirkan aku. I’m professional, people!”

Sampai di studio, terlihat banyak sekali orang yang sedang sibuk melakukan persiapan untuk pemotretan. Saat aku masuk, mereka menyapa ku dengan hormat.

“selamat pagi, semua!”, aku menyapa mereka pertama.
“selamat pagi”, balas mereka.
“bagaimana persiapannya?”, kataku kepada dua orang yang aku hampiri. Namanya Arisa dan Ryuzaki.

“akan selesai dalam 5 menit lagi. Kami bisa jadikan 2 menit bila kau mau”, kata Arisa.
“tidak, tidak. Lakukan saja seperti biasa, aku tidak terburu-buru. Apakah modelnya sudah siap? Dimana dia?”
“belum. Dia ada diruang make up dan kudengar sedang ada sedikit masalah”, kata Ryuzaki.
“tolong atasi itu, Ryuzaki”, perintah ku.
“oke”
“dan Arisa tolong buat jadi 3 menit. Aku akan ke ruang gelap dulu”
“baik, Ami”

Setelah masuk kedalam ruang gelap, ku keluarkan foto-foto yang ku bawa tadi lalu menggantungnya di dekat foto-foto lain. Kutatapi foto ber-objek seorang laki-laki tinggi berambut hitam itu. Sayangnya, yang tejepret adalah kepala bagian belakang dan punggungnya saja. Namun, entah mengapa aku merasa mengenalnya. Perasaan ku seperti lega setelah menunggu seseorang.

Tiba-tiba pintu terbuka. Manajer Takeshi memberi tahu ku waktunya sudah tiba. Aku segera keluar dari ruangan, diikuti manajer Takeshi dibelakangku.

Jujur saja, aku belum tahu siapa model ku hari ini. Saat rapat 3 minggu yang lalu aku tidak sempat bertemu dengannya ataupun mencari tahu siapa dan seperti apa dia. Aku baru tahu saat manajer Takeshi memberi ku laporan saat ini. Ternyata, model ku kali ini adalah seorang laki-laki, seumuran dengan ku, dan dia adalah seorang aktor  terkenal yang sedang naik daun. Ichigo. Sepertinya aku pernah menngenal nama ini, pikir ku.

“sapalah dia dulu, Ami”, kata manajer Takeshi pada ku.

Saat memasuki studio, semua orang menatap ku. Kuberi mereka senyuman termanisku tapi mataku mencari-cari sang pemain film ini. BINGO! Kutemukan dia sedang duduk sambil meminum sebotol air mineral. Aku melangkah kerahnya, mengulurkan tangan ku tanda ingin berjabat tangn dengannya.

“halo! Kau pasti Ichigo. Aku Ami, fotografer yang akan memotretmu. Senang berkenalan dengan mu”
 
Baru saja aku mengatakan ‘halo’, dia menoleh kearah ku lalu berdiri sambil menerima jabatan ku. Terlihat senyum tipis merekah di wajahnya. Tatapannya pun hangat. Ternyata dia memakai kacamata.

Saat aku berjabat tangan dengannya, jantungku sangat terasa debarannya. Tatapannya juga sangat dalam padaku. Berniat untuk segera melepaskan tangan, saat mulai kutarik lagi tangan ku tiba-tiba tangan ku tidak dilepaskan oleh Ichigo. Aku sedikit terkaget. Kemudian dia mulai membalas sapaan ku dan melepaskan tangan ku.

“hai. Aku Ichigo. Senang berkenalan dengan mu juga”
“kita akan segera memulai pemotretan. Aku akan memulai briefing sekarang. Aku harap kita semua bisa bekerja sama dengan baik”, kata ku.

Setelah briefing, aku menyuruh Ichigo untuk bersiap-siap didepan layar putih.

“ada apa dengan tadi?” tiba-tiba manajer Takeshi membisikku.
“apa?”
“kau tadi berjabat tangan sangat lama dengannya. Kau tahu, dari semua orang yang pernah berkenalan dengannya, baru kali ini dia membalas sapaan orang lain dan mau berjabat tangan dengan orang lain. Apa kau mengenalnya atau…?”
“ah, tidak. Aku tidak mengenalnya. Sebegitu dinginkah dia?”
“begitulah. Yang penting hari ini kita harus memperlakukan dia dengan baik. Kau dengar, Ami?”
“begitu, ya? Sayangnya, aku lah yang berkuasa di tempat ini. Dia yang harus bersikap baik pada ku”

Pemotretan pun dimulai seperti biasa. Tak ada yang spesial sedikit pun dari seluruh pose sang bintang.namun, jika diperhatikan lagi, yang aneh adalah kru Ichigo. Mereka seperti berbisik-bisik tentang sesuatu tapi kurasa mereka membicarakan ku dan Ichigo.

Akhirnya setelah 4 jam pemotretan selesai. Hari ini sungguh-sunguh terasa lebih lama dari biasanya. Apa karena suasana di studio kali ini kurang menyenangkan? Mungkin, karena selama pemotretan orang-orang terlalu serius –hampir membuatku takut jikalau ada apa-apa–.

Setelah rombongan Ichigo berpamitan, aku langsung pergi menuju kamar gelap untuk mengambil melihat foto yang aku keringkan tadi pagi. Masih belum kering. Sedikit lagi, pikirku. Kutinggalkan 2 foto itu tergelantung di kamar gelap itu.

Ku putuskan untuk makan siang sendiri tanpa teman-teman ku. Hari ini aku benar-benar ingin menikmati musim semi yang sejuk ini bersama kamera kesayangan ku. Pemandangan di jendela membuatku tak sabar untuk menjelajah indahnya kota ini. Di pikiran ku sudah terlintas 1001 rencana setelah keluar dari lift yang bergerak cukup lama.

Tiba-tiba lift berhenti. Ku lihat angka yang terlihat di atas pintu lift. 10. Aku masih dilantai 10. Pasti para pegawai yang akan makan siang di luar gedung studio dengan rombongan mereka masing-masing dan tentu saja pasti sangat sesak. Pintu lift terbuka. Aku menyandarkan diri di sisi kanan lift dan memalingkan wajahku ke jendela lift. Tak disangka suara seorang laki-laki yang familiar ditelinga menyapa ku.

“Ami?”

Sejenak badanku cukup merinding dan jantungku berdetak kencang seiring suara itu mengiring telingaku. Kutatap wajah orang yang menyapaku.

“Ichigo?”

Dia berdiri membelakangi pintu lift, menatap ku dengan senyuman hangat. Dia sendirian tanpa krunya. Dia sendirian di dalam lift. Bersama ku.

“apa yang kau lakukan disini, Ichigo? Dimana kru mu?’’, aku membuka pembicaraan dengan bertanya padanya.
“ah, aku hanya ingin menjemput seseorang”
“oh ya? Siapa?”
“kamu”

Aku terdiam. Membeku mendengar jawabannya. Kamu? Aku maksudnya?
“maaf… maksudmu?” ku kernyitkan kening ku tanda bingung dengan perkataannya.
“jadi benar. Kau tidak mengingatku sama sekali…”
“mengingatmu? Apa kita pernah bertemu atau apa kita pernah saling kenal?”
“kita pernah bertemu. Kita juga saling kenal satu sama lain. Kau benar-benar lupa, Ami?” Penjelasannya membuatku sangat bingung. Kupaksa otakku memeras diri untuk mengingat-ingat orang ini. Namun, nihil.

“haha… aku rasa kita perlu ngobrol berlama-lama. Bagaimana kalau kita pergi makan siang bersama. Akan kujelaskan semuanya nanti dan ku traktir kau. Bagaimana?”
“aku… aku ingin tapi… kau pasti sangat sibuk. Le… lebih baik berikan saja nomer teleponmu. Nanti aku akan…”
“tidak, sebenarnya aku sedang cuti panjang minggu ini. Pemotretan tadi adalah kegiatan terakhirku. Sudahlah ikut saja, ya?”

Aku belum mengiyakan dia langsung meraih handphone nya dan menelepon manajernya. Dia bilang dia sudah bertemu dengan orang yang dia cari dan menyuruh seluruh kru untuk segera pulang. Ichigo benar-benar tidak main-main. Dia ingin berdua saja dengan ku.

Sesaat sebelum kami keluar dari gedung, aku menarik lengan bajunya dengan sedikit khawatir. “apa tidak apa-apa pergi tanpa menutupi wajahmu? Kota ini sangat ramai akan orang-orang. Kau juga adalah seorang bintang. Apalagi aku bersama mu. Apa kata fans-fans mu nanti?”

Kulihat dia hanya tersenyum lebih manis dan lebih hangat dari sebelumnya. Tangan besar dan halusnya mengusap kepala ku sambil berkata, “tenang, Ami. Di depan kamera aku melepas kacamata ku dan rambut ku memiliki gaya yang berbeda dengan warna merah kecoklatan. Kalau berdandan begini tidak mudah mereka mengenaliku”

Aku terpesona olehnya. Dia terlihat lebih keren dari sebelumnya. Tanpa sadar tangan ku sudah digandeng olehnya. Saat kaki ku melangkah keluar dari gedung, aku merasa hidupku akan berubah. Namun, bersamaan dengan pikiran itu aku merasa bahwaaku sangat dekat dengan Ichigo sebelum aku mengenalnya hari ini. Dia membuatku penasaran siapa sebenarnya dia.

Tiba-tiba, aku dikejutkan dengan gempa bumi dahsyat. Semua hancur, rata dengan tanah. Aku tidak merasakan genggaman tangan Ichigo. Bukan. Dia tidak ada!