Tiba-tiba Shasha, anak anjing ras Maltese yang berwarna putih
bersih, melompat ke pangkuan ku. Dia berhasil membuatku terkejut. Ku sapa dia
sambil mengelus kedua pipinya. Terasa sekali bulunya sangat halus. Dialah
keluarga yang aku punya dirumah ini. Setelah lulus dari kuliah, aku memutuskan
untuk hidup sendiri di sebuah apartermen, dan hidup bersama seekor hewan
peliharaan.
Setelah puas memanjakan Shasha, ku pandangi semua foto hasil
jepretan ku di dinding. Foto pemandangan, foto orang, foto bangunan, dan
lain-lain lengkap menghiasi dinding yang ada hampir diseluruh ruangan. Namun,
tetap saja hasil foto yang paling kusuka adalah jendela kaca yang ada dibalkon
memberikan pemandangan menakjubkan setiap waktunya. Itu selalu berhasil menarik
mata ku.
Hingga sesaat setelah memandangi jendela kaca itu, mata ku di beri
pemandangan yang sedikit berbeda. Terlalu menarik perhatian sehingga aku
bergegas mengambil kamera polaroid ku untuk menangkap momen itu. Berkali-kali
kutekan tombol kamera sambil tersenyum -sepertinya aku melakukan tindakan
kriminal- dan memutar-mutar kemera agar mendapatkan gambar yang bagus.
Setelah puas memotret orang yang tak dikenal berkali-kali, aku
langsung mencetaknya di kamar gelap. Baru 2 lembar foto yang sudah siap
dijemur, telepon di ruang tengah berbunyi. Segera kuambil langkah seribu untuk
mengangkatnya.
"halo?"
"halo, Ami? Kamu ada dimana? Sudah jam berapa sekarang? Apa
kamu lupa hari ini ada pemotretan besar? Cepat ke studio atau karir mu sebagai
fotografer terkenal akan jatuh!"
"iya, manajer... Takeshi..." Bunyi beep panjang
terdengar sebelum aku menyelesaikan jawaban ku.
Kulihat jam di atas tv menujukkan pukul 07.30. Aku berlari untuk
bersiap-siap pergi kerja dan tak lupa kuberi Shasha semangkuk makanan anjing
dan susu. Sebelum aku mengunci pintu, aku baru ingat untuk membawa hasil foto
yang baru saja aku cetak. Masih agak basah tapi kumasukkan foto itu kedalam
kotak map bening yang selalu aku bawa.
"Bye-bye, Shasha! I love you!" Ku ucapkan selamat
tinggal pada Shasha sekali lagi.
Aku berlari mengejar lift yang hampir penuh oleh para tetangga
yang sangat aku kenal dan tentu saja sudah menjadi adat untuk menyapa mereka.
"selamat pagi, semua!", sapa ku.
"pagi, Nona Ami!", seorang kakek terdengar lebih jelas
menyapaku dengan ramah sekali. Kakek Daichi namanya. Tapi aku acuhkan dia
dengan senyuman termanis ku lalu kupasang sepatu roda yang sudah kubawa tadi.
Saat pintu lift terbuka aku langsung meluncur keluar gedung
apartermen dan menuju gedung studio yang berjarak 7 blok ke utara. Musim semi
memberikan angin sejuknya, membuatku meluncur lebih cepat. Pohon-pohon sakura
yang sudah bermekaran mengindahkan pandanganku dan banyak burung-burung kecil
berlagu ditelinga ku. Benar-benar indah hari ini. Namun, bila saja aku tidak
sedang dikejar waktu, aku pasti bisa berhenti untuk memotret pemandangan indah
ini.
Perjalananku memakan waktu sekitar 30 menit dari apartemen tapi
sekarang bisa ku tempuh hanya dalam waktu 15 menit saja. Apalagi kalu bukan
karena aku hampir telat.
Gedung studio temapat aku bekerja sudah mulai nampak. Banyak orang
berseliweran masuk-keluar gedung ataupun hanya sekedar lewat didepan gedung.
Aku tidak menghentikan diriku sendiri untuk melepas sepatu didepan pintu masuk
gedung. 2 security tampan ku lewati begitu saja.
Di dekat meja resepsionis, seorang laki-laki tampan namun terlihat
lebih tua dari ku, melambai pada ku. Aku menghampirinya sambal melambai tangan
padanya.
“darimana saja kamu? Kamu hampir terlambat, Ami!”, kata manajer
Takeshi sembari memberi ku segelas vanilla latte hangat yang biasa aku minum
setiap pagi. Setelah menerima gelas kopi itu, kami berdua langsung pergi menuju
lift. Aku melihat manajer Takeshi yang sepertinya berjalan cepat di sebelah ku
–dia berusaha berjalan sejajar dengan yang lebih cepat dari dia karena sepatu
roda–.
“maaf, aku tadi ada sedikit urusan dengan Shasha”
“haah… ya sudah. Kita cepat ke studio saja, kasihan modelmu nanti
menunggu mu lebih lama”
“apakah dia sudah datang?”
“yap, baru saja dia naik ke atas bersama manajernya. Mungkin dia
sedang make up. Kita harus segera memulai pemotretan karena kudengar modelmu
kali ini orangnya sangat dingin, Ami.”
Aku tertawa kecil sambil mengeluarkan kotak map bening dari dalam
tas ku, mengeluarkan beberapa kertas yang berisi laporan pekerjaan ku lalu
kuberikan pada manajer Takeshi.
“hahaha… Manajer, kau sudah sering melihat ku memotret banyak
orang dengan berbagai karakter. Aku tahu bagaimana menjinakkan mereka. Jadi,
jangan khawatirkan aku. I’m professional, people!”
Sampai di studio, terlihat banyak sekali orang yang sedang sibuk
melakukan persiapan untuk pemotretan. Saat aku masuk, mereka menyapa ku dengan
hormat.
“selamat pagi, semua!”, aku menyapa mereka pertama.
“selamat pagi”, balas mereka.
“bagaimana persiapannya?”, kataku kepada dua orang yang aku
hampiri. Namanya Arisa dan Ryuzaki.
“akan selesai dalam 5 menit lagi. Kami bisa jadikan 2 menit bila
kau mau”, kata Arisa.
“tidak, tidak. Lakukan saja seperti biasa, aku tidak terburu-buru.
Apakah modelnya sudah siap? Dimana dia?”
“belum. Dia ada diruang make up dan kudengar sedang ada sedikit
masalah”, kata Ryuzaki.
“tolong atasi itu, Ryuzaki”, perintah ku.
“oke”
“dan Arisa tolong buat jadi 3 menit. Aku akan ke ruang gelap dulu”
“baik, Ami”
Setelah masuk kedalam ruang gelap, ku keluarkan foto-foto yang ku
bawa tadi lalu menggantungnya di dekat foto-foto lain. Kutatapi foto ber-objek
seorang laki-laki tinggi berambut hitam itu. Sayangnya, yang tejepret adalah
kepala bagian belakang dan punggungnya saja. Namun, entah mengapa aku merasa
mengenalnya. Perasaan ku seperti lega setelah menunggu seseorang.
Tiba-tiba pintu terbuka. Manajer Takeshi memberi tahu ku waktunya
sudah tiba. Aku segera keluar dari ruangan, diikuti manajer Takeshi
dibelakangku.
Jujur saja, aku belum tahu siapa model ku hari ini. Saat rapat 3
minggu yang lalu aku tidak sempat bertemu dengannya ataupun mencari tahu siapa
dan seperti apa dia. Aku baru tahu saat manajer Takeshi memberi ku laporan saat
ini. Ternyata, model ku kali ini adalah seorang laki-laki, seumuran dengan ku,
dan dia adalah seorang aktor terkenal
yang sedang naik daun. Ichigo. Sepertinya
aku pernah menngenal nama ini, pikir ku.
“sapalah dia dulu, Ami”, kata manajer Takeshi pada ku.
Saat memasuki studio, semua orang menatap ku. Kuberi mereka
senyuman termanisku tapi mataku mencari-cari sang pemain film ini. BINGO!
Kutemukan dia sedang duduk sambil meminum sebotol air mineral. Aku melangkah
kerahnya, mengulurkan tangan ku tanda ingin berjabat tangn dengannya.
“halo! Kau pasti Ichigo. Aku Ami, fotografer yang akan memotretmu.
Senang berkenalan dengan mu”
Baru saja aku mengatakan ‘halo’, dia menoleh kearah ku lalu
berdiri sambil menerima jabatan ku. Terlihat senyum tipis merekah di wajahnya.
Tatapannya pun hangat. Ternyata dia memakai kacamata.
Saat aku berjabat tangan dengannya, jantungku sangat terasa
debarannya. Tatapannya juga sangat dalam padaku. Berniat untuk segera
melepaskan tangan, saat mulai kutarik lagi tangan ku tiba-tiba tangan ku tidak
dilepaskan oleh Ichigo. Aku sedikit terkaget. Kemudian dia mulai membalas
sapaan ku dan melepaskan tangan ku.
“hai. Aku Ichigo. Senang berkenalan dengan mu juga”
“kita akan segera memulai pemotretan. Aku akan memulai briefing
sekarang. Aku harap kita semua bisa bekerja sama dengan baik”, kata ku.
Setelah briefing, aku menyuruh Ichigo untuk bersiap-siap didepan
layar putih.
“ada apa dengan tadi?” tiba-tiba manajer Takeshi membisikku.
“apa?”
“kau tadi berjabat tangan sangat lama dengannya. Kau tahu, dari
semua orang yang pernah berkenalan dengannya, baru kali ini dia membalas sapaan
orang lain dan mau berjabat tangan dengan orang lain. Apa kau mengenalnya atau…?”
“ah, tidak. Aku tidak mengenalnya. Sebegitu dinginkah dia?”
“begitulah. Yang penting hari ini kita harus memperlakukan dia
dengan baik. Kau dengar, Ami?”
“begitu, ya? Sayangnya, aku lah yang berkuasa di tempat ini. Dia
yang harus bersikap baik pada ku”
Pemotretan pun dimulai seperti biasa. Tak ada yang spesial sedikit
pun dari seluruh pose sang bintang.namun, jika diperhatikan lagi, yang aneh
adalah kru Ichigo. Mereka seperti berbisik-bisik tentang sesuatu tapi kurasa
mereka membicarakan ku dan Ichigo.
Akhirnya setelah 4 jam pemotretan selesai. Hari ini sungguh-sunguh
terasa lebih lama dari biasanya. Apa karena suasana di studio kali ini kurang
menyenangkan? Mungkin, karena selama pemotretan orang-orang terlalu serius
–hampir membuatku takut jikalau ada apa-apa–.
Setelah rombongan Ichigo berpamitan, aku langsung pergi menuju
kamar gelap untuk mengambil melihat foto yang aku keringkan tadi pagi. Masih belum kering. Sedikit lagi, pikirku.
Kutinggalkan 2 foto itu tergelantung di kamar gelap itu.
Ku putuskan untuk makan siang sendiri tanpa teman-teman ku. Hari
ini aku benar-benar ingin menikmati musim semi yang sejuk ini bersama kamera
kesayangan ku. Pemandangan di jendela membuatku tak sabar untuk menjelajah
indahnya kota ini. Di pikiran ku sudah terlintas 1001 rencana setelah keluar
dari lift yang bergerak cukup lama.
Tiba-tiba lift berhenti. Ku lihat angka yang terlihat di atas
pintu lift. 10. Aku masih dilantai 10. Pasti para pegawai yang akan makan siang
di luar gedung studio dengan rombongan mereka masing-masing dan tentu saja
pasti sangat sesak. Pintu lift terbuka. Aku menyandarkan diri di sisi kanan
lift dan memalingkan wajahku ke jendela lift. Tak disangka suara seorang
laki-laki yang familiar ditelinga menyapa ku.
“Ami?”
Sejenak badanku cukup merinding dan jantungku berdetak kencang
seiring suara itu mengiring telingaku. Kutatap wajah orang yang menyapaku.
“Ichigo?”
Dia berdiri membelakangi pintu lift, menatap ku dengan senyuman
hangat. Dia sendirian tanpa krunya. Dia sendirian di dalam lift. Bersama ku.
“apa yang kau lakukan disini, Ichigo? Dimana kru mu?’’, aku
membuka pembicaraan dengan bertanya padanya.
“ah, aku hanya ingin menjemput seseorang”
“oh ya? Siapa?”
“kamu”
Aku terdiam. Membeku mendengar jawabannya. Kamu? Aku maksudnya?
“maaf… maksudmu?” ku kernyitkan kening ku tanda bingung dengan
perkataannya.
“jadi benar. Kau tidak mengingatku sama sekali…”
“mengingatmu? Apa kita pernah bertemu atau apa kita pernah saling
kenal?”
“kita pernah bertemu. Kita juga saling kenal satu sama lain. Kau
benar-benar lupa, Ami?” Penjelasannya membuatku sangat bingung. Kupaksa otakku
memeras diri untuk mengingat-ingat orang ini. Namun, nihil.
“haha… aku rasa kita perlu ngobrol berlama-lama. Bagaimana kalau
kita pergi makan siang bersama. Akan kujelaskan semuanya nanti dan ku traktir
kau. Bagaimana?”
“aku… aku ingin tapi… kau pasti sangat sibuk. Le… lebih baik
berikan saja nomer teleponmu. Nanti aku akan…”
“tidak, sebenarnya aku sedang cuti panjang minggu ini. Pemotretan
tadi adalah kegiatan terakhirku. Sudahlah ikut saja, ya?”
Aku belum mengiyakan dia langsung meraih handphone nya dan
menelepon manajernya. Dia bilang dia sudah bertemu dengan orang yang dia cari
dan menyuruh seluruh kru untuk segera pulang. Ichigo benar-benar tidak
main-main. Dia ingin berdua saja dengan ku.
Sesaat sebelum kami keluar dari gedung, aku menarik lengan bajunya
dengan sedikit khawatir. “apa tidak apa-apa pergi tanpa menutupi wajahmu? Kota
ini sangat ramai akan orang-orang. Kau juga adalah seorang bintang. Apalagi aku
bersama mu. Apa kata fans-fans mu nanti?”
Kulihat dia hanya tersenyum lebih manis dan lebih hangat dari
sebelumnya. Tangan besar dan halusnya mengusap kepala ku sambil berkata,
“tenang, Ami. Di depan kamera aku melepas kacamata ku dan rambut ku memiliki
gaya yang berbeda dengan warna merah kecoklatan. Kalau berdandan begini tidak
mudah mereka mengenaliku”
Aku terpesona olehnya. Dia terlihat lebih keren dari sebelumnya.
Tanpa sadar tangan ku sudah digandeng olehnya. Saat kaki ku melangkah keluar
dari gedung, aku merasa hidupku akan berubah. Namun, bersamaan dengan pikiran
itu aku merasa bahwaaku sangat dekat dengan Ichigo sebelum aku mengenalnya hari
ini. Dia membuatku penasaran siapa sebenarnya dia.
