![]() |
| http://31.media.tumblr.com/ec1132e856501ad383100d9f9916869c/tumblr_mvv17rZbdB1s8xqxjo1_500.jpg |
Tak peduli berapa kali kutatap wajahnya, masih sama saja. Dia
cantik.
Aku merasa beruntung aku memilikinya. Dia
sempurna untuk ku karena dia melengkapi hidup ku.
Pernah ku berikrar pada diriku bahwa aku mau sakit separah apapun, asal dia
sehat-sehat saja. Aku mau menghabiskan uang ku untuknya, asal apa yang dia mau
terpenuhi. Aku mau jauh dan hilang untuknya, asal dia bahagia. Karena aku
lelakinya.
Jukebox di kedai kopi, tempat kami biasa
menghabiskan waktu, berganti lagu. Ah! Itu lagu favoritnya. Aku melihat ada 3
anak kecil yang baru saja memasukkan koin dan mengganti lagunya, lalu mereka
menari dengan riangnya.
"ironis sekali...", kata Megu
tiba-tiba, membuatku cepat menoleh padanya.
"...mereka menari diiringi lagu itu
tapi mereka tidak tahu arti dari lagu itu. Ironis, bukan?" Aku cukup
tercengang mendengarnya. Itu adalah lagu favoritnya. Lagu bergenre jazz itu
dinyanyikan seorang wanita berbahasa Inggris dan irama musiknya juga tidak
terlalu lambat. Aku rasa itu adalah lagu yang menyenangkan. Mengapa Megu
berkata demikian?
Dia melirikku sambil sedikit tersenyum.
"Ruu, kau tahu aku suka lagu itu dan kita sering mendengarkannya di tempat
ini, tapi apa kau tahu arti dari lagu itu?"
Aku hanya bingung menatapnya dan tertawa
kecil. "malu sekali aku! Sepertinya kau tahu aku tidak mengerti arti lagu
itu"
Dia berhenti menatapku, memalingkan
wajahnya ke luar jendela. Diluar masih hujan salju. Tidak tebal, normal saja.
Terdengar oleh telinga ku tarikan nafas Megu yang akan mulai mengeluarkan
kata-kata.
"lagu itu berjudul Stronger Without
Me...", dari cara ia mengucapkan judul lagu itu saja, sudah jelas bahwa
Megu sangatlah fasih berbahasa Inggris.
"... artinya, Lebih Kuat Tanpa Ku.
Aku lupa nama penyanyi nya, tapi ia bernyanyi seakan ia mengalami hal seperti dalam
lirik lagu itu. Seorang wanita yang sedang memberi ucapan selamat tinggal
dengan memberi motivasi kepada kekasihnya..." Dia melirik kearah ku dan
tampak sedikit terkejut melihatku yang tanpa diduga aku sangat
memperhatikannya.
Telapak tangan Megu melingkari cangkir
kopi miliknya, ia menunduk menatap bayangan wajahnya dalam kopi tersebut.
"si wanita harus memutuskan hubungannya karena ia akan pergi jauh dari
kekasihnya dan tak akan kembali. Sang kekasih yang sangat mencintainya tidak
bisa melakukannya, ia hanya bisa diam dan menahan air mata dan si wanita
berkata bahwa ia akan mendapatkan wanita yang lebih baik..." Megu
terhenti, kemudian menatap ku dengan ekspresi aneh.
"bahwa kekasihnya pasti akan lebih
kuat tanpa nya"
Dengungan kencang tiba-tiba menyerang
telinga ku. Jantungku berdegup lebih kencang. Tangan ku pun bergetar. Entah
mengapa ketakutan menyerang ku. Ku tundukkan kepala dan menutup mata,
menenangkan diriku sendiri sekuat tenaga.
"Ruu.." Aku terkejut mendengar
Megu memanggil ku. "aku akan berpisah dengan mu"
Sontak aku merasakan jantung dan darah ku
berhenti seketika. Apa-apaan
ini? Kenapa wanita yang aku cintai berkata demikian? Mungkinkah ia terpengaruh
dengan lagu itu? "Ruu?"
Megu memanggil ku lagi. Aku sudah tidak tahan dengan apa yang ia katakan. Aku
berdiri dengan cepat, tatapanku padanya sangat garang beraduk takut. Kuraih
tangannya lalu menariknya keluar dari kedai.
Megu berteriak memanggil namaku. Sesekali
ia merintih kesakitan karena tangannya ku genggam dengan sangat keras ditambah
lagi aku berjalan sangat cepat. Aku menoleh ke belakang, ke matanya. Aku tahu
aku jahat, aku menyakiti tubuh wanita ini. Tiba-tiba ia berteriak menyebut
namaku. Kami terhenti dihalte bus yang tak ada seorang pun selain kami berdua.
Terdengar dibelakang ku hembusan kencang dari nafas Megu.
"Ruu, maafkan aku. Kau harus
mengerti. Sekarang, lepaskan tanganku, Ruu" Tak ada suara isak tangis
darinya. Nada suaranya sepertinya biasa saja, seperti tak ada nada penyesalan. "maaf, aku menggenggam
tanganmu terlalu keras. Dengan begitu kau tidak bisa pergi dariku."
Ia berjalan ke depanku, menatapku dengan raut muka biasa saja.
Kurasa ia berusaha keras untuk tegar.
“orang tua ku menyuruh ku untuk tinggal di luar negeri dan aku
tidak bisa menyangkalnya. Besok aku harus berangkat, Ruu. Aku memutuskan
hubungan kita karena aku tak sanggup jauh darimu padahal kita masih memiliki ikatan.
Itu menyakitkan!”
“sekarang kau menyakitiku, Megu…” Kataku padanya. Suaraku rintih sekali.
“lebih baik sekarang aku menyakitimu, daripada aku memberikan
kabar bahwa aku akan menikah dengan orang lain nanti disana. Ruu, ini bukan
tentang lagu itu, tapi aku tahu kau pantas mendapatkan yang lebih baik. Bahwa
kau lebih kuat bila tanpa aku”
Kakiku melemas, aku terduduk dan tangan ku tetap menggenggam
tangannya. Megu duduk didepanku sambil mengusap dahi ku dan berhenti di pipiku.
Kami saling menatap dalam-dalam. Aku tidak bisa lagi membaca pikirannya, aku
hanya berharap waktu berhenti selamanya.
“Megu, kumohon. Jangan tinggalkan aku. Jangan pergi dariku… Aku
mencintaimu..”
“aku lebih mencintaimu dari yang kau tahu. Karena itulah aku harus
pergi. Juga, karena kau mencintaiku, kau harus bisa melepaskan ku” Megu menarik
kedua tanganku. Lalu ia menciumnya dengan cukup lama.
Sesaat setelah ia melepaskan tanganku, aku memeluknya. Kupeluk wanita
yang telah melengkapi kehidupanku, yang telah kucintai, dan kukagumi selama 2
tahun lamanya, kini harus kulepaskan. Ku biarkan ia terbang menjauh, jauh dari
diriku.
Kami melepas pelukan kami, kucium keningnya dan dia melakukan hal
yang sama. Bus terakhir datang mengusik keheningan kami, ia pun berdiri dan
mulai melangkah meninggalkan aku.
Aku yang masih terduduk lemas tiba-tiba menarik jaket kesayangannya.
“Megu, kau tahu mengapa aku memberanikan diri mengambil keputusan
untuk melepasmu?” Ia menatap dan menunggu jawabanku.
“Aku mau sakit separah apapun, asal kau sehat-sehat saja. Aku mau
menghabiskan uang ku untukmu, asal apa yang kau mau terpenuhi. Aku mau jauh dan
hilang untukmu, asal kau bahagia…”
Aku menatapnya dengan seberkas senyum untuknya lalu barkata, “karena
aku lelakimu, Megu”
Dia membalas senyumku dengan mata yang masih cerah. “akan kutulis
surat untukmu sesering mungkin. Aku pergi… Ruu”
Seiring dengan salju yang berhenti turun, Megu memalingkan
wajahnya dan pergi menuju ketempat dimana ia harus berada. Namun, aku tahu ia
pergi dengan hati yang ringan dan bahagia karena ia bisa mencintai ku sebelum
beranjak jauh. Begitu pula dengan ku, kulepaskan dia dengan tanpa penyesalan
dan dendam karena aku bisa lebih kuat tanpa dirinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar