Jumat, 11 Juli 2014

Stronger Without Me


http://31.media.tumblr.com/ec1132e856501ad383100d9f9916869c/tumblr_mvv17rZbdB1s8xqxjo1_500.jpg
Tak peduli berapa kali kutatap wajahnya, masih sama saja. Dia cantik. 

Aku merasa beruntung aku memilikinya. Dia sempurna untuk ku karena dia melengkapi hidup ku. 

Pernah ku berikrar pada diriku bahwa aku mau sakit separah apapun, asal dia sehat-sehat saja. Aku mau menghabiskan uang ku untuknya, asal apa yang dia mau terpenuhi. Aku mau jauh dan hilang untuknya, asal dia bahagia. Karena aku lelakinya.

Jukebox di kedai kopi, tempat kami biasa menghabiskan waktu, berganti lagu. Ah! Itu lagu favoritnya. Aku melihat ada 3 anak kecil yang baru saja memasukkan koin dan mengganti lagunya, lalu mereka menari dengan riangnya.

"ironis sekali...", kata Megu tiba-tiba, membuatku cepat menoleh padanya.
"...mereka menari diiringi lagu itu tapi mereka tidak tahu arti dari lagu itu. Ironis, bukan?" Aku cukup tercengang mendengarnya. Itu adalah lagu favoritnya. Lagu bergenre jazz itu dinyanyikan seorang wanita berbahasa Inggris dan irama musiknya juga tidak terlalu lambat. Aku rasa itu adalah lagu yang menyenangkan. Mengapa Megu berkata demikian?

Dia melirikku sambil sedikit tersenyum. "Ruu, kau tahu aku suka lagu itu dan kita sering mendengarkannya di tempat ini, tapi apa kau tahu arti dari lagu itu?"
Aku hanya bingung menatapnya dan tertawa kecil. "malu sekali aku! Sepertinya kau tahu aku tidak mengerti arti lagu itu"

Dia berhenti menatapku, memalingkan wajahnya ke luar jendela. Diluar masih hujan salju. Tidak tebal, normal saja. Terdengar oleh telinga ku tarikan nafas Megu yang akan mulai mengeluarkan kata-kata.

"lagu itu berjudul Stronger Without Me...", dari cara ia mengucapkan judul lagu itu saja, sudah jelas bahwa Megu sangatlah fasih berbahasa Inggris.
"... artinya, Lebih Kuat Tanpa Ku. Aku lupa nama penyanyi nya, tapi ia bernyanyi seakan ia mengalami hal seperti dalam lirik lagu itu. Seorang wanita yang sedang memberi ucapan selamat tinggal dengan memberi motivasi kepada kekasihnya..." Dia melirik kearah ku dan tampak sedikit terkejut melihatku yang tanpa diduga aku sangat memperhatikannya.

Telapak tangan Megu melingkari cangkir kopi miliknya, ia menunduk menatap bayangan wajahnya dalam kopi tersebut. "si wanita harus memutuskan hubungannya karena ia akan pergi jauh dari kekasihnya dan tak akan kembali. Sang kekasih yang sangat mencintainya tidak bisa melakukannya, ia hanya bisa diam dan menahan air mata dan si wanita berkata bahwa ia akan mendapatkan wanita yang lebih baik..." Megu terhenti, kemudian menatap ku dengan ekspresi aneh.

"bahwa kekasihnya pasti akan lebih kuat tanpa nya"

Dengungan kencang tiba-tiba menyerang telinga ku. Jantungku berdegup lebih kencang. Tangan ku pun bergetar. Entah mengapa ketakutan menyerang ku. Ku tundukkan kepala dan menutup mata, menenangkan diriku sendiri sekuat tenaga.

"Ruu.." Aku terkejut mendengar Megu memanggil ku. "aku akan berpisah dengan mu"

Sontak aku merasakan jantung dan darah ku berhenti seketika. Apa-apaan ini? Kenapa wanita yang aku cintai berkata demikian? Mungkinkah ia terpengaruh dengan lagu itu? "Ruu?" Megu memanggil ku lagi. Aku sudah tidak tahan dengan apa yang ia katakan. Aku berdiri dengan cepat, tatapanku padanya sangat garang beraduk takut. Kuraih tangannya lalu menariknya keluar dari kedai.

Megu berteriak memanggil namaku. Sesekali ia merintih kesakitan karena tangannya ku genggam dengan sangat keras ditambah lagi aku berjalan sangat cepat. Aku menoleh ke belakang, ke matanya. Aku tahu aku jahat, aku menyakiti tubuh wanita ini. Tiba-tiba ia berteriak menyebut namaku. Kami terhenti dihalte bus yang tak ada seorang pun selain kami berdua. Terdengar dibelakang ku hembusan kencang dari nafas Megu.

"Ruu, maafkan aku. Kau harus mengerti. Sekarang, lepaskan tanganku, Ruu" Tak ada suara isak tangis darinya. Nada suaranya sepertinya biasa saja, seperti tak ada nada penyesalan. "maaf, aku menggenggam tanganmu terlalu keras. Dengan begitu kau tidak bisa pergi dariku."

Ia berjalan ke depanku, menatapku dengan raut muka biasa saja. Kurasa ia berusaha keras untuk tegar.

“orang tua ku menyuruh ku untuk tinggal di luar negeri dan aku tidak bisa menyangkalnya. Besok aku harus berangkat, Ruu. Aku memutuskan hubungan kita karena aku tak sanggup jauh darimu padahal kita masih memiliki ikatan. Itu menyakitkan!”

“sekarang kau menyakitiku, Megu…” Kataku padanya. Suaraku rintih sekali.
“lebih baik sekarang aku menyakitimu, daripada aku memberikan kabar bahwa aku akan menikah dengan orang lain nanti disana. Ruu, ini bukan tentang lagu itu, tapi aku tahu kau pantas mendapatkan yang lebih baik. Bahwa kau lebih kuat bila tanpa aku”

Kakiku melemas, aku terduduk dan tangan ku tetap menggenggam tangannya. Megu duduk didepanku sambil mengusap dahi ku dan berhenti di pipiku. Kami saling menatap dalam-dalam. Aku tidak bisa lagi membaca pikirannya, aku hanya berharap waktu berhenti selamanya.

“Megu, kumohon. Jangan tinggalkan aku. Jangan pergi dariku… Aku mencintaimu..”
“aku lebih mencintaimu dari yang kau tahu. Karena itulah aku harus pergi. Juga, karena kau mencintaiku, kau harus bisa melepaskan ku” Megu menarik kedua tanganku. Lalu ia menciumnya dengan cukup lama.

Sesaat setelah ia melepaskan tanganku, aku memeluknya. Kupeluk wanita yang telah melengkapi kehidupanku, yang telah kucintai, dan kukagumi selama 2 tahun lamanya, kini harus kulepaskan. Ku biarkan ia terbang menjauh, jauh dari diriku.

Kami melepas pelukan kami, kucium keningnya dan dia melakukan hal yang sama. Bus terakhir datang mengusik keheningan kami, ia pun berdiri dan mulai melangkah meninggalkan aku.

Aku yang masih terduduk lemas tiba-tiba menarik jaket kesayangannya.

“Megu, kau tahu mengapa aku memberanikan diri mengambil keputusan untuk melepasmu?” Ia menatap dan menunggu jawabanku.
“Aku mau sakit separah apapun, asal kau sehat-sehat saja. Aku mau menghabiskan uang ku untukmu, asal apa yang kau mau terpenuhi. Aku mau jauh dan hilang untukmu, asal kau bahagia…”

Aku menatapnya dengan seberkas senyum untuknya lalu barkata, “karena aku lelakimu, Megu”

Dia membalas senyumku dengan mata yang masih cerah. “akan kutulis surat untukmu sesering mungkin. Aku pergi… Ruu”


Seiring dengan salju yang berhenti turun, Megu memalingkan wajahnya dan pergi menuju ketempat dimana ia harus berada. Namun, aku tahu ia pergi dengan hati yang ringan dan bahagia karena ia bisa mencintai ku sebelum beranjak jauh. Begitu pula dengan ku, kulepaskan dia dengan tanpa penyesalan dan dendam karena aku bisa lebih kuat tanpa dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar